Batik dan Batik Printing, Serupa Tapi Tak Sama

Batik telah terkenal di negara asalnya, Indonesia sejak diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Namun siapa sangka tingginya permintaan pasar yang dibarengi dengan persaingan harga telah melahirkan persaingan industri batik yang paling berat, kain bermotif batik atau batik print, yang sebenarnya bukan batik buatan. Lantas apa sebenarnya batik itu dan mengapa batik cap tidak disebut batik?

Batik, menurut UNESCO, merupakan teknik pemblokiran warna yang menggunakan lilin panas untuk membentuk pola tertentu. Prosesnya panjang dan rumit serta membutuhkan kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi. Hal ini membuat batik tidak selalu mampu memenuhi permintaan pasar, dimana sebagian besar pembeli menginginkan proses produksi yang cepat dan harga yang murah. Bayangkan, dalam selembar kain dengan pola paling sederhana, setidaknya membutuhkan empat proses berbeda yang dilakukan oleh empat orang berbeda.

Pertama, seorang desainer akan menggambar pola yang seharusnya memiliki batik pada selembar kain. Kain tidak boleh sembarangan, tidak boleh mengandung poliester, atau harus 100% katun atau serat alami lainnya. Karena? Karena kain yang mengandung polyester akan sulit menyerap warnanya, maka corak batik terbaru tidak akan terlihat. Parahnya, jika kandungan polyesternya tinggi, kain tidak akan berubah warna sama sekali.

Alasan lainnya, tentu saja, adalah kenyamanan. Kain batik masih memiliki pori-pori yang cukup untuk kulit “bernafas” saat batik dikenakan sebagai pakaian. Pori-pori membuat kain nyaman dipakai meski ada perubahan suhu udara dan juga tidak menyebabkan iritasi. Proses selanjutnya adalah membatik. Teknik ini dapat dilakukan dengan dua alat: canting dan cap. Dan menurut definisi batik UNESCO, wax yang digunakan haruslah wax yang panas, karena lama kelamaan cold wax bisa digunakan untuk perangko.

Jika kita perhatikan, batik biasanya dipraktekkan oleh wanita. Hal tersebut wajar, karena wanita dikenal lebih luwes dan berhati-hati, bahkan saat mengukir jahitan batik yang membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak singkat. Untuk kain dengan corak sederhana biasanya berukuran 110 x 240cm membutuhkan waktu pengerjaan 3-6 hari. Sedangkan batik cap yang biasanya dibuat oleh laki-laki setidaknya bisa menghasilkan 10 helai kain dalam sehari. Kualitas perangko sangat ditentukan oleh kekuatan tekanan selama produksi batik. Kalaupun sama-sama batik, dengan canting atau cap, perbedaan waktu pengerjaan pasti akan menimbulkan perbedaan harga.

Batik tulis dengan menggunakan canting tentunya lebih mahal, meskipun jika diperhatikan corak yang dihasilkan sangat tidak rapi dan ukuran coraknya tidak sama. Sedangkan pada batik tulis salah satu yang membedakan adalah corak motifnya yang hampir tidak ada pengulangan atau pengulangan. Batik cap biasanya lebih murah. Alat yang digunakan seperti perangko dibuat sedemikian rupa sehingga motif yang dihasilkan bisa tajam, hampir berulang-ulang tanpa cacat. Tentunya dalam membuatnya, Anda tidak bisa meletakkan pola yang sama secara berurutan, namun ada beberapa rumus yang digunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *