Sandang, Pangan dan Papan Dalam Islam

Ekonomi adalah masalah universal. Oleh karena itu, seluruh dunia sedang memperhatikan masalah ekonomi. Manusia berusaha keras untuk menggunakan energi dan pikirannya untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan, dan papan. Didalam buku referensi muslim di sekolah sudah mempelajari mengenai ekonomi, semisal berhemat dan masih banyak lagi.

Upaya energi dan pikiran sangat penting untuk menyempurnakan kehidupan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Semua bisnis yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ini dikenal sebagai ekonomi.

Islam memandang masalah ekonomi tidak hanya dari sudut pandang kapitalis, tetapi juga dari sudut pandang sosialis. Ilmu ekonomi Islam merupakan kombinasi keduanya. Islam memberikan perlindungan atas properti individu. Untuk kepentingan masyarakat, Islam menjaga keseimbangan antara kepentingan umum dan individu serta menjaga moralitas.

Pemikiran ekonomi Islam dimulai dengan Nabi Muhammad. rasul yang ditunjuk. Rasululllah Saw. mengeluarkan beberapa kebijakan tentang berbagai masalah. Beberapa dari kebijakan tersebut menangani masalah sosial, serta masalah hukum atau fiqh, politik atau politik, serta masalah komersial atau ekonomi atau muamalah.

Rasulullah Saw. memperhatikan masalah ekonomi umat karena masalah ekonomi merupakan pilar keimanan yang harus diperhatikan. Dasar-dasar Nabi Muhammad. itu juga digunakan sebagai pedoman oleh para khalifah sebagai pengganti dalam menentukan masalah ekonomi.

Selain kebijakan Nabi Muhammad SAW, Alquran dan Al-Hadits juga dijadikan dasar teori ekonomi oleh para khalifah dan pengikutnya dalam mengatur kehidupan ekonomi negara.

Dalam buku Jejak Langkah-Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (2010), Nur Chamid menuliskannya pada masa Rasulullah Saw. Mengingat amanah menjalankan dakwah Islam di usia 40 tahun, tidak ada tentara resmi seperti saat ini. Setiap Muslim yang cakap bisa menjadi tentara.

Orang-orang yang sehat ini tidak menerima gaji tetap, tetapi diberi sebagian dari rampasan perang. Barang rampasan itu termasuk senjata, kuda, unta, domba, dan barang bergerak lainnya yang diperoleh dari perang.

Biasanya Rasulullah Saw. dengan membagi seperlima (khum) rampasan perang menjadi tiga bagian. Bagian pertama untuk dia dan keluarganya. Bagian kedua untuk kerabat. Bagian ketiga untuk anak yatim piatu atau orang yang membutuhkan dan orang yang sedang bepergian.

Adapun kuota empat perlima lainnya untuk prajurit yang ikut perang. Dalam beberapa kasus, beberapa yang tidak berpartisipasi dalam perang juga memainkan peran mereka. Misalnya penunggang kuda. Ia akan mendapat dua bagian, yaitu untuk dirinya sendiri dan untuk kudanya.

Di masa Nabi Muhammad, dia menerapkan praktik ekonomi yang lebih manusiawi dengan penaklukan tanah pertanian sebagai tanah fay ‘atau milik umum. Lahan pertanian diserahkan kepada pemilik dan petani.

Praktik ini sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah Romawi dan Persia, yang memisahkan tanah dari pemiliknya dan membagikannya kepada elit militer dan militer.

Semua tanah yang telah dialokasikan untuk Rasulullah Saw. (iqta ‘) jumlahnya lebih kecil. Tanah ini pada umumnya merupakan tanah milik manusia. Kebijakan ini tidak hanya dapat membantu menjaga kelangsungan administrasi dan ekonomi tanah yang dikuasai, tetapi juga dapat mendorong keadilan antar generasi dan menciptakan sikap egaliter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *