Senyum Vincenzo Grifo Adalah Bukti Italia Selalu di Hatinya

Alessandro Bastoni memasuki area ketiga pertahanan lawan lalu menembak Kevin Lasagna. Lasagna, penyerang Udinese, berperan melempar bola. Menurut sumber Bola terpercaya kami menemukan satu gol lagi kemudian, menempatkan Vincenzo Grifo – setelah menerima tembakan Kevin Lasagna – penjaga gawang Estonia Marko Meerits, tidak dapat menghentikannya.

Aksi Vincenzo Grifo tak berhenti sampai di situ. Di babak kedua, ia kembali disebut-sebut sebagai pencetak gol setelah sukses mencetak gol lewat tendangan penalti. Untuk merayakan dua golnya, tak berlebihan pemain berusia 27 tahun itu. Yang ada hanyalah senyuman.

Senyuman Vincenzo Grifo mencerminkan suasana hatinya. Itulah tujuannya untuk menghormati Italia, dan juga bukti bahwa meskipun ia sudah dewasa, dewasa dan berkarier sepak bola di Jerman, Italia selalu ada di hatinya.

Lahir di Pforzheim, Jerman, pada 7 April 1993, Vincenzo Grifo berasal dari orang tua Italia yang beremigrasi ke Jerman. Ibunya berasal dari Puglia, di tenggara Italia. Ayahnya berasal dari Naro, provinsi Agrigento, Sisilia.

Di usia muda, Grifo muncul untuk tim sepak bola dari kampung halamannya di Pforzheim. Pada 2011 dia pindah ke Karlsruher U-19. Namun tak lama kemudian, dia pindah lagi, kali ini dengan Hoffenheim II dan menandatangani kontrak hingga 2014.

Penampilannya yang apik membuat manajemen tim mempromosikannya ke tim utama. Pada tahun 2012, ia juga melakukan debutnya di Bundesliga 1 saat Hoffenheim bermain melawan Greuther Fuerth. Saat itu, dia muncul selama 20 menit untuk menggantikan Takashi Usami. Di usia 19 tahun, memainkan 12 pertandingan di level tertinggi sepakbola Jerman adalah sebuah pencapaian.

Setelah menjalani beberapa masa pinjaman, Freiburg, yang saat itu berkompetisi di Bundesliga 2, menandatanganinya pada 2015 dengan biaya transfer satu juta euro. Penampilannya terus membaik dengan 14 gol dan 14 assist, mengarah pada promosi Freiburg ke Bundesliga 1.

Dalam sebuah wawancara, Grifo mengatakan peningkatan yang terjadi saat itu karena menjaga kebugaran jasmani. “Saya sangat senang dengan kemajuan saya dan dengan tim. Saya merasa hebat dan hebat karena saya memanfaatkan pramusim untuk memastikan saya siap,” katanya.

Intensitas perpindahan Vincenzo Grifo dari satu perusahaan ke perusahaan lain cukup sering terjadi. Mulai dari Moenchengladbach, kembali ke Hoffenheim, lalu kembali ke Freiburg. Dia diharapkan bermain di Italia bersama Fiorentina dan Lazio, tetapi itu tidak pernah terjadi.

Namun, meski tak bermain di Serie A, timnas Italia Roberto Mancini akhirnya memanggilnya dan melakoni debutnya pada 2018 saat bertemu Amerika Serikat dalam laga uji coba. Setelah itu, ia membutuhkan waktu satu tahun untuk kembali ke timnas Italia, kali ini di babak kualifikasi Piala Eropa 2020 melawan Liechtenstein.

Bukan kebetulan kalau Mancini memanggilnya untuk timnas. Selain pandai menyisir sisi kiri, Grifo dikenal sebagai pemain yang memiliki aksi mematikan sekumpulan bidak. Di klub bertahan mana pun, tendangan sudut atau tendangan bebas sering dilakukan olehnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *